Italia dan mekanisme Euro
————————–——-
Salah satu analisa paling menarik Saxo Bank untuk 2009 adalah kemungkinan besar keluarnya Italia dari system mata uang Euro yg berlaku di kawasan Uni Eropa.
Saat penggabungan system mekanisme Euro berlangsung, sudah saya perkirakan adalah diuntungkannya Negara-negara bagian Uni Eropa yg system ekonominya jatuh tertinggal dibandingkan dengan negara anggota Uni Eropa lain.
Lira yg bernilai jauh di bawah mata uang lainnya, seperti Francs Perancis, bahkan Gulden Belanda saat penggabungan berlangsung, memang diutungkan dg penerapan mata uang tunggal. Sayangnya penerapan system mekanisme mata uang tunggal untuk sebuah kawasan yg hanya dilekatkan oleh sebuah peradaban dan letak geografis, tidak dapat menjamin otoritas setiap Negara dapat disamaratakan secara ekonomi, bahkan hukum dan pemerintahan.
Italia, dengan penduduk yg tercatat hampir 60 juta orang dan luas demografi 301,245 km2, ikut hanyut terseret krisis global, dan asset-asetnya satu persatu mulai akan berguguran, seperti hampir pailitnya penerbangan maskapai Alitalia. Italia dengan Real GDP growth yg -0.2% di tahun 2008 ini - data http://www.euromonitor.com/factfile.aspx?country=IT dan inflasi yg mencapai 3.45% di tahun yg sama semakin membuat Negara yg dahulu besar dan tersohor dg kekaisaran Roman nya harus menanggung beban yg berat.
Adanya pemahaman mekanisme mata uang tunggal, memang tidak selalu membawa imbas yg selalu stabil pada suatu kawasan regional. Apakah hanya dengan pengatasnamaan “satu kawasan” kita dapat bersatu dan menerapkan “satu nama untuk alat barter barang dan jasa”???
Saya rasa tidak. Mengapa? Jangan lupakan bahwa Negara-negara satu kawasan, tidak otomatis memiliki kesamaan landasan ekonomi yg kuat.
Hukum rimba pun akan berlaku, siapa yg kuat akan bertahan dan yg lemah, akan semakin memperlemah existensi mekanisme mata uang tunggal, akibatnya, mata uang tersebut akan terdevaluasi dan karenanya, dia-negara yg tidak kuat mau tidak mau harus keluar dari aturan main.
Coba Anda sedikit bermain matematika, dengan menghitung statistic, jika ada 5 komponen x, yaitu x1,x2,x3,x4, dan x5. Jika x1…x4 memiliki value taruhlah 8 dan x5 sendiri yg memiliki value 4, maka Anda dengan mudah menghitung mean(nilai rata-rata) ada pada (8+8+8+8+4)/5=7.2 siapa yg membuat nilai rata-rata turun? Yah yg bervalue 4 kan? Bukankah seharunya jika x5=8, mereka kan memiliki mean 8 ?!
Dari sekian banyak indikator kekuatan ekonomi, ada satu hal di antaranya pada ketergantungan suatu Negara pada produk pangannya mayoritas rakyatnya, semisal China, Thailand, dan Vietnam yg mayoritas pemakan mie dan Indonesia yg pemakan nasi. Jika saham-saham produk pangan dilepas go public, naik turunnya saham-saham produk pangan mayoritas penduduk akan dapat termonitor.
Jika kita Asean akan menerapkan suatu system mata uang tunggal, mudah2an kita dapat lebih dahulu belajar dan menganalisa bahwa setiap Negara anggota berangkat dari kekuatan ekonomi yg beragam. Menurut saya sih, idealnya, jika setiap Negara anggota memiliki hampir semua aspek, mulai dari GDP, inflasi, hutang Luar Negri yg hampir seragam, baru kestabilan system bisa dicapai. Apakah mungkin? Sangat tidak mungkin kan!
Letak yg berdekatan bukan satu-satunya alasan penerapan mekanisme mata uang tunggal. Dan hanya waktu dan kestabilan yg akan membuktikan, siapa yg lebih dulu nantinya harus keluar dari system. Seperti analisa bahwa Italia harus segera keluar dari mekanisme mata uang tunggal Euro.
Mudah2an bisa diterima, tapi hemat saya, sanering atau pemotongan mata uang secara drastis, sepertinya dapat diterapkan pada satu Negara isolasi yg tampaknya harus keluar dari system. Bukan sanering pada Euro nya, tetapi sanering pada ekivalen produk local Negara yg bersangkutan.
Harga minyak tergelincir hingga 25U$/barrel
————————–————————–———————
Satu lagi, permasalahan analisa Saxo Bank yg menyebut di tahun 2009 nanti, harga minyak yg dapat terjum ke level 25U$ per-barel tampaknya sangat mengerikan!! Sesudah Negara Republik ini harus tak lagi menduduki Opec akibat pemenuhan kebutuhan domestic yg belum dapat dicukupi dan kesepakatan pengurangan produksi minyak dari Negara-negara anggota Opec.
Jika beberapa anggota Opec beralih kepada dibentuknya kartel Forum pengeksport Gas, yang katanya memakan waktu 10-15 tahun untuk persiapan kilang gasnya.
Alat pembayaran khusus untuk non-renewable energy resources
————————–————————–————————––
Idealnya(hemat saya lagi), apakah suatu mekanisme pasar yg tidak didasarkan pada mata uang yg paling banyak beredar di dunia ini, bisa dilakukan? Apakah tatanan bisnis dunia ini dapat menyetujui suatu alat pembayaran khusus energi-energi non-renewable energy resources?? Semua energi yg keluar dari bumi, minyak, gas,dll ? Mengapa? Karena jika kita memakai suatu alat pembayaran khusus untuk energi yg pasti akan habis, berarti sooner or later, alat pembayaran itu akan terdevaluasi, dan jika kita memakai alat pembayaran yg sangat popular dalam dunia bisnis all over the world, akibatnya berimbas pada banyak sector, tidak hanya melulu pada minyak dan gas. Dan krisis ekonomi globalpun akan menyeret kita again and again. Cabee dee…huh
Hasil oprek-oprek dan ide original saya untuk solusi yg mungkin tampak nyeleneh ;D di penghujung tahun. Happy new year everyone!
Always be creative and original!
Lelya Damarwangi
