Damarwangi blog on Technologies

Gadgets, Softwares, Electro Medical, Biotech, Share on current issues

Archive for the ‘Share’ Category

Catatan perjalanan yg sungguh sayang dilewatkan.    

Memenuhi undangan kawan yg memiliki bisnis peternakan kepiting, udang dan bandeng di pesisir pantai Utara Jawa, tak sengaja membawa saya kembali merenungi sejarah perjuangan bangsa ini.

Perjalanan sekitar 45 menit membawaku ke pintu tol Krawang Barat, Rengas Dengklok di mana ada 2 tempat penting bagiku: satu: tempat di mana beristirahat dengan tenang almarhum ibundaku yg baru saja berpulang, pemakaman terindah di Indonesia – San Diego Hills dan dua: tempat diculiknya Bung Karno dan dituliskannya naskah Teks Proklamasi tepat 1 hari sebelum proklamasi dibacakan .

Ternyata peternakan bandeng dan kepiting kawanku, tidak berada tepat di Rengas Dengklok tapi masih sekitar 3,5 jam perjalanan!! Namun perjalanan tak terasa membosankan, karena pemandangan sawah di kanan dan kiri jalan terhampar indah. Jalan yg cukup kecil untuk dilalui 2 arah. Sebagai lumbung padi di Jawa Barat, tak heran jika Chairil Anwar menorehkan tinta puisinya ttg Krawang dan Bekasi, sebuah lumbung padi yang begitu subur, dengan aliran sungai Citarum yang deras, bahkan sekarang ini sering kebanjiran!

Kini sebagian kota Bekasi sudah beralih fungsi menjadi pemukiman bahkan sentra industri yang padat, menggeser kedudukan sawah-sawah lumbung padi.

Setelah menyusuri kali, sungai buntu, daerah Pedes dan hamparan sawah yg tak habis di pandangan mata, akhirnya kami memasuki kawasan pesisir pantai utara P.Jawa dan tiba di rumah seorang kawan. Ternyata keluarganya sedang menyiapkan berkilo-kilo kepiting dan ikan bandeng goreng!!

Setelah mampir sejenak, kami pun menyempatkan diri main ke pantai Samudra Baru, sebuah pantai yg airnya lumayan coklat karena lumpur dan dangkal, dengan kedalaman paling mentok 25 meter, sehingga tidak ada kapal yg berlabuh. Tak ada yg istimewa, tapi karena ingin melepas lelah dan menikmati ikan kakap merah raksasa yg dibakar. Segera kami menyantap makan siang yg semuanya sea food segar ditemani semilir angin pantai. Sungguh segar!    

Sewaktu kembali dari pantai Samudra Baru ini, yg jaraknya sekitar 35 Km dari Rengas Dengklok, seorang teman meminta kami mampir ke rumahnya di Rengas Dengklok. Kami pun mampir di rumah mungilnya, dan ternyata lagi2…ronde kedua makan siang…ternyata ibu dari temanku yg satu ini telah memesan sate maranggi khas Rengas Dengklok…sate dari daging sapi ini memang cukup kecil, tapi jangan ditanya rasanya!! Aroma gula aren dan ketumbar yg nendang, emang endang bambang!!!

Sewaktu pamitan pulang, ternyata kami masih lagi dibekali serabi hijau khas Rengas dengan saos nangka dan durian dan gubraaks…hancurlah program diet resolusi awal tahun ini…    

Rumah Djiaw Kie Siong

Dalam perjalanan pulang, hanya beberapa ratus meter saja, tersebutlah rumah keramat Rengas Dengklok. Di tempat inilah Bung Karno dan Bung Hatta, “diculik” untuk diamankan oleh tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada 16 Agustus 1945. Kami menyisir rumah satu persatu, tapi memoriku yg kata almarhum ibu kadang2 kumat fotographic memory-nya menghentikan laju mobil pada sebuah rumah cat hijau putih, dg bangunan khas tempo doeloe. Yaaayy….aku sudah berdiri di rumah bersejarah itu!!!

Rumah ini, biasanya hanya aku lihat di buku sejarah SD.
Aku tak ragu minta izin masuk, karena di depan rumah tampak banyak orang berjaga di serambi sambil mengobrol.

Peristiwa di Rengas Dengklok

Imbas dari dijatuhkannya bom nuklir oleh Amerika di Jepang, tepatnya Hiroshima tgl 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tgl 9 Agustus 1945 telah membuat pemerintahan Jepang saat itu berada dalam kondisi panik, termasuk di daerah koloninya saat itu.
Tentunya ini momen yg sangat tepat untuk merebut kemerdekaan dan bebas dari belenggu penjajahan. Hal ini disadari sepenuhnya oleh para pemuda dan tentara PETA saat itu.

Memasuki rumah itu, tampak jejeran foto. Mulai dari foto Bung Karno, Soekarni, Hadi Pranoto, Singgih hingga pemilik rumah Djiaw Kie Siong (wafat 1964).

Rumah Djiaw Kie Siong, terletak foto the founding fathers dan para “penculik”nya, seperti Soekarni, Singgih, dan Hadi Pranoto.
Di sebelah kanan, terletak kamar yang sempat ditiduri Bung Karno, Ibu Fatmawati dan bayi Guntur.
Di sebelah kiri terletak kamar Bung Hatta.
Di sinilah tempat tidur Bung Karno dan Ibu Fatmawati bersama Guntur (saat itu berusia 9 bulan)
Selebihnya di dinding tergantung sumbangan-sumbangan dari partai, sumbangan ini berupa hiasan dinding dengan pemeo-pemeo yg biasa dikumandangkan Bung Karno, seperti Jas Merah(Jangan Sekali sekali Melupakan Sejarah),dll.    

Saya pun merinding, membayangkan peristiwa 16 Agustus, dan cukup trenyuh melihat kondisi bangunan saksi sejarah. Saya menuliskan seuntai kata pada lembar buku tamu dan menerangkan pada suami bahwa ini rumah keramat buat orang Indonesia, hingga dia mendesak saya menceritakan sejarah ada apa dengan rumah itu.

Mengapa di Rengas Dengklok ?

Saat itu para pemuda, diantaranya Chaerul Saleh dan Adam Malik serta sebagian tentara PETA menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI, yang dianggap sebagai badan/organisasi buatan Jepang.

Untuk itu, mereka “menculik” founding fathers kita: diantaranya Bung Karno dan Bung Hatta sekitar pukul 04.30 dini hari dari Menteng 31 ke Rengas Dengklok. Sedianya pengamanan akan dilakukan di markas PETA yg berjarak sekitar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, namun Bung Karno menolak dengan alasan keamanan, akhirnya sejarah membawa kita ke rumah keramat ini.

Dari perbincangan saya dengan Ibu Nani- cucu dari alm.Djiaw, saat itu ada sekitar 40 orang yg ikut mengamankan rumah itu pada peristiwa 16 Agustus 1945.

Di rumah inilah Bung Karno, ibu Fatmawati dan Guntur(saat itu berusia 9 bulan) dan tentunya Bung Hatta menginap.

Di rumah ini juga para pemuda mendesak dan akhirnya bernegosiasi dengan Bung Karno dan Bung Hatta hingga lahirnya Teks Proklamasi Kemerdekaan.

Tidak sampai di situ, mereka juga mencari kesepakatan tentang kapan tanggal pengumuman proklamasi akan dilakukan. 

Negosiasi ini dilakukan antara golongan muda yg diwakili Mr.Akhmad Subarjo dengan golongan tua yg diwakili Soekarno dan Hatta.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. 

Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. 

Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang “diambil” dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler.

Tidak terawat    

Sepertihalnya di kebanyakan situs bersejarah yang telah mengukir perjuangan bangsa ini, tempat ini pun jauh dari kesan terawat. Saya pun trenyuh, mengapa pemerintah tidak lebih memperhatikan tempat-tempat bersejarah seperti ini. Di sinilah Teks Pidato diolah dan disusun.Teks yang menggema setiap 17 Agustus di seantero negri.

Bagian atap dari kamar tidur BK yg terlihat tidak terawat
Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok    

Pernah saat Ibu Mega menjabat sebagai Presiden, sedianya akan dibangun museum, dan dari observasi saya, jalan akses menuju “yg sedianya bangunan museum Rengas Dengklok” sudah dibangun dengan baik, namun konon berhembus kabar beliau keburu turun jabatan, rencana tinggal rencana. Yah paling tidak, sekitrar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, terdapat bekas markas PETA yg kini terletak bangunan Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok – jadi obat penghibur hati.

Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok - sekitar 100 meter dari Rumah Djiaw
Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok - sekitar 100 meter dari Rumah Djiaw
Renungan    

Pertanyaan saya: apakah founding fathers dan rangkaian sejarah yang mengikutinya hanya milik seorang anak yg bangga akan kebesaran ayahnya?  Tidak!! Sejarah bangsa ini yah milik kita semua. Jadi siapapun yg ada di sini sedianya memiliki obligasi moral merawat situs bersejarah. 
Namun mungkin saya terlalu banyak berharap!

Demikianlah rangkaian perjalanan saya menyusuri lumbung padi di Jawa Barat, dan menyisir pantai Utara Jawa hingga saya terhempas di Rengas Dengklok.

Menorehkan seuntai kata pada buku tamu
ditulis pada 18 Januari 2009

Italia dan mekanisme Euro
————————–——-

Salah satu analisa paling menarik Saxo Bank untuk 2009 adalah kemungkinan besar keluarnya Italia dari system mata uang Euro yg berlaku di kawasan Uni Eropa.

Saat penggabungan system mekanisme Euro berlangsung, sudah saya perkirakan adalah diuntungkannya Negara-negara bagian Uni Eropa yg system ekonominya jatuh tertinggal dibandingkan dengan negara anggota Uni Eropa lain.

Lira yg bernilai jauh di bawah mata uang lainnya, seperti Francs Perancis, bahkan Gulden Belanda saat penggabungan berlangsung, memang diutungkan dg penerapan mata uang tunggal. Sayangnya penerapan system mekanisme mata uang tunggal untuk sebuah kawasan yg hanya dilekatkan oleh sebuah peradaban dan letak geografis, tidak dapat menjamin otoritas setiap Negara dapat disamaratakan secara ekonomi, bahkan hukum dan pemerintahan.

Italia, dengan penduduk yg tercatat hampir 60 juta orang dan luas demografi 301,245 km2, ikut hanyut terseret krisis global, dan asset-asetnya satu persatu mulai akan berguguran, seperti hampir pailitnya penerbangan maskapai Alitalia. Italia dengan Real GDP growth yg -0.2% di tahun 2008 ini - data http://www.euromonitor.com/factfile.aspx?country=IT dan inflasi yg mencapai 3.45% di tahun yg sama semakin membuat Negara yg dahulu besar dan tersohor dg kekaisaran Roman nya harus menanggung beban yg berat.

Adanya pemahaman mekanisme mata uang tunggal, memang tidak selalu membawa imbas yg selalu stabil pada suatu kawasan regional. Apakah hanya dengan pengatasnamaan “satu kawasan” kita dapat bersatu dan menerapkan “satu nama untuk alat barter barang dan jasa”???
Saya rasa tidak. Mengapa? Jangan lupakan bahwa Negara-negara satu kawasan, tidak otomatis memiliki kesamaan landasan ekonomi yg kuat. 

Hukum rimba pun akan berlaku, siapa yg kuat akan bertahan dan yg lemah, akan semakin memperlemah existensi mekanisme mata uang tunggal, akibatnya, mata uang tersebut akan terdevaluasi dan karenanya, dia-negara yg tidak kuat mau tidak mau harus keluar dari aturan main.

Coba Anda sedikit bermain matematika, dengan menghitung statistic, jika ada 5 komponen x, yaitu x1,x2,x3,x4, dan x5. Jika x1…x4 memiliki value taruhlah 8 dan x5 sendiri yg memiliki value 4, maka Anda dengan mudah menghitung mean(nilai rata-rata) ada pada (8+8+8+8+4)/5=7.2 siapa yg membuat nilai rata-rata turun? Yah yg bervalue 4 kan? Bukankah seharunya jika x5=8, mereka kan memiliki mean 8 ?! 

Dari sekian banyak indikator kekuatan ekonomi, ada satu hal di antaranya pada ketergantungan suatu Negara pada produk pangannya mayoritas rakyatnya, semisal China, Thailand, dan Vietnam yg mayoritas pemakan mie dan Indonesia yg pemakan nasi. Jika saham-saham produk pangan dilepas go public, naik turunnya saham-saham produk pangan mayoritas penduduk akan dapat termonitor.

Jika kita Asean akan menerapkan suatu system mata uang tunggal, mudah2an kita dapat lebih dahulu belajar dan menganalisa bahwa setiap Negara anggota berangkat dari kekuatan ekonomi yg beragam. Menurut saya sih, idealnya, jika setiap Negara anggota memiliki hampir semua aspek, mulai dari GDP, inflasi, hutang Luar Negri yg hampir seragam, baru kestabilan system bisa dicapai. Apakah mungkin? Sangat tidak mungkin kan! 

Letak yg berdekatan bukan satu-satunya alasan penerapan mekanisme mata uang tunggal. Dan hanya waktu dan kestabilan yg akan membuktikan, siapa yg lebih dulu nantinya harus keluar dari system. Seperti analisa bahwa Italia harus segera keluar dari mekanisme mata uang tunggal Euro.

Mudah2an bisa diterima, tapi hemat saya, sanering atau pemotongan mata uang secara drastis, sepertinya dapat diterapkan pada satu Negara isolasi yg tampaknya harus keluar dari system. Bukan sanering pada Euro nya, tetapi sanering pada ekivalen produk local Negara yg bersangkutan.

Harga minyak tergelincir hingga 25U$/barrel
————————–————————–———————
Satu lagi, permasalahan analisa Saxo Bank yg menyebut di tahun 2009 nanti, harga minyak yg dapat terjum ke level 25U$ per-barel tampaknya sangat mengerikan!! Sesudah Negara Republik ini harus tak lagi menduduki Opec akibat pemenuhan kebutuhan domestic yg belum dapat dicukupi dan kesepakatan pengurangan produksi minyak dari Negara-negara anggota Opec. 
Jika beberapa anggota Opec beralih kepada dibentuknya kartel Forum pengeksport Gas, yang katanya memakan waktu 10-15 tahun untuk persiapan kilang gasnya. 

Alat pembayaran khusus untuk non-renewable energy resources
————————–————————–————————–
Idealnya(hemat saya lagi), apakah suatu mekanisme pasar yg tidak didasarkan pada mata uang yg paling banyak beredar di dunia ini, bisa dilakukan? Apakah tatanan bisnis dunia ini dapat menyetujui suatu alat pembayaran khusus energi-energi non-renewable energy resources?? Semua energi yg keluar dari bumi, minyak, gas,dll ? Mengapa? Karena jika kita memakai suatu alat pembayaran khusus untuk energi yg pasti akan habis, berarti sooner or later, alat pembayaran itu akan terdevaluasi, dan jika kita memakai alat pembayaran yg sangat popular dalam dunia bisnis all over the world, akibatnya berimbas pada banyak sector, tidak hanya melulu pada minyak dan gas. Dan krisis ekonomi globalpun akan menyeret kita again and again. Cabee dee…huh

Hasil oprek-oprek dan ide original saya untuk solusi yg mungkin tampak nyeleneh ;D di penghujung tahun. Happy new year everyone!

Always be creative and original!
Lelya Damarwangi

Tik tak tik tak….waktu menunjukkan pukul 4 pagi, aku seketika terjaga di tengah tidurku yang lelap akibat kelelahan selama beberapa hari menyiapkan acara pameran itu.
Di tengah convy nya kamar hotel bintang 4 ini, mataku tidak bisa lagi kupejamkan…akupun terjaga dengan seluruh kesadaranku…

Lalu kunikmati tayangan cable yg ada….setelah sebuah film cerita yg menarik, tombol itu pun kupencat pencet, mencari sesuatu yg menarik di pikiranku. Akhirnya kutemukan juga…tayangan mengenai sebuah penelitian di negara maju yg sangat menarik perhatianku sejak 9 tahun yg lalu….fuiiih…Apakah itu? Rahasia donk…yeee…

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, mentari sudah tinggi di ufuknya….aku sengaja membuka seluruh jendela agar hangatnya sinar pagi dapat kunikmati..…segera aku pergi ke kamar mandi, mandi dan mencuci rambutku yg sudah mulai tak karuan panjangnya.

Hari ini hari sangat istimewa pikirku. Orang nomer 2 di Republik ini setidaknya akan berkenan hadir dalam pameran karya anak-anak bangsa dan pengkhayal sejati macam diriku.
Mungkinkah karena itu, aku sudah tidak sabar lagi? Entahlah…yang pasti diriku sangat tak mengira dari hampir 600 karya pilihan anak bangsa yang innovatif, dan kreatif, team ku masuk ke dalam nominator sepuluh besar kabarnya. Ah Tuhan…apakah aku tidak bermimpi? Apakah risetku selama ini sudah mulai tercium oleh sebuah penghargaan…walopun belum menyentuh bidang pendanaan?!!!

Ah, ini adalah hari yg penting bagiku dan bagi seluruh team yg aku pimpin. Setelah aku membersihkan diriku, aku tak sabar membangunkannya….aku bilang hari ini kita harus datang lebih awal ke pameran. Aku pun sudah memprediksi pengawalan protokoler orang nomer 2 di Republik ini pasti lebih ketat. Maka itu aku mau datang lebih pagi supaya kami punya waktu lebih banyak untuk menyiapkan semuanya.

Setelah mengangkut PC dan peralatan pameran…yah aku turun untuk breakfast….
Saat breakfast pun aku lalui secepatnya dan rasanya kakiku ini ingin segera saja sampai ke JHCC….
Setelah breakfast, segera meluncur ke JHCC….dan tepat prediksiku….pengawalan lebih ketat hari ini. Tampak bagian parkir tepat di depan gedung sudah disterilkan…dan beberapa orang berseragam berjaga-jaga, dan dari depan pintu utama Xray scan dan metal detector siap menunggu….satu demi satu protokoler itu pun aku lewati.

Wah istimewanya hari ini, Paspampres dan protokoler standard orang VVIP ini mensinyalemenkan kepastian kedatangan orang nomer 2 Republik ini….fuiih jantungku berdegup lebih kencang…

Setelah sampai di booth/standku yg mungil, aku pun segera memasang perangkat display…satu persatu kurangkai, sambil kuperhatikan beberapa perwira telah datang dan melihat-lihat pameran karya nominator. Mereka pun tersenyum kepadaku. Aku pun mengangguk, memberi hormat. Mereka pasti tertarik dengan karya adik-adik yang ada di pameran ICT ini ….mulai dari anak SMA Sidoarjo yg merangkai robot anti terror, Anak ITS yang merangkai mouse dengan penggerak sensor mata, anak-anak UI yang merangkai Smart chip yang terintegrasi, dan lain sebagainya.

Sayangnya hari itu, teamku pada sibuk di lapangan. Sekitar satu setengah jam kemudian, pihak panitia pun memanggil semua peserta pameran nominator untuk berkumpul di ruang utama Merak 2 untuk mengikuti pidato Menteri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh dan sambil menunggu kedatangan JK.
Akupun mau tak mau harus masuk, dan duduk manis menikmati pidato demi pidato orang-orang VVIP itu.

Pada satu pidato JK sempat menyindir kami, anak-anak muda yang terjaga di malam kelam & pagi buta lalu tidur di pagi hari, saat bekerja untuk mendapatkan inspirasi dan inovasi….kekeeke….huahaha…akupun tak dapat menahan tawaku…karena dia persis menyindir cara hidupku…aah bapak kita yg satu ini bizaa aza…Tapi memang itulah kenyataannya….memang ketenangan yang kami butuhkan untuk mendapatkan konsentrasi yang maksimal, mau tak mau kami berteman dengan malam dan bintang dan saat matahari terjaga, kami baru berangkat ke peraduan…Kehidupan yang sangat tidak dapat dimaklumi orang kantoran typical 9to5, iya kan? He eh…nyengir dee

Tak berapa lama, MC mengumumkan bahwa JK akan segera mengunjungi stand demi stand….kami pun berhamburan berlari keluar ruangan untuk kembali ke pos menjaga stand masing-masing.

Wah, letak stand ku yang sangat strategis menjadi kunjungan ke-2 untuk JK dan Pak Muh.Nuh….jantungku semakin berdegup kencang. Langkah kakinya mengarah ke stand ku, tiba-tiba dia sudah berdiri tepat di sampingku dan berdialog denganku mengenai riset multimedia Damarwangi. Ternyata dia cukup menunjukkan minat pada risetku yg selama ini menjadi bahan tertawaan sebagian orang yg bilang aku neko-neko, idealis, bla-bla…ah…perduli setan dengan semua itu….Waktu jualah yang akan membuktikan segalanya bukan??

Yah memang benar seperti kata Agnes Monica……Anjing mengonggong Kafillah berlalu…Orang sirik tanda tak mampu….

Ternyata hasil kerja keras anak-anak teamku dan hasil berpikir yang membuat rambutku banyak beruban telah mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari orang VVIP di Republik ini…Terima kasih Tuhan…Alhamdulillah….

Mudah-mudahan diriku semakin kuat dan tegar menjadi pengkhayal sejati dan mudah-mudahan semakin banyak orang yg bisa menikmati hasil-hasil riset Damarwangi di suatu hari nanti. Amin.

Belum cukup di situ, lunch standard hotel berbintang yang free dari pihak sponsor dan malamnya sebuah Gala dinner yang elegan digelar….wah segala fasilitas ini aku dapatkan dari sebuah apresiasi sejumput orang yang menghargai penelitian dan pengembangan disiplin ilmuku. Yah agak norak memang mengumbar-umbar tata boga, tapi buat aku dan teamku yg biasa makan di warung….hal ini cukup berkesanlah..

Walaupun pengumuman 10 besar dan nominator terlambat hingga 2 bulan karena koordinasi yg berantakan dari pihak sponsor dan penyelenggara….yah maklum deh….tahun lalu saja hanya 107 karya yg masuk dan Damarwangi keluar sebagai finalis dari category Start Up. Seharusnya tahun lalu aku hadir pada acara finalist karena sudah masuk 2 besar dan seharusnya aku dapat berangkat ke Hongkong untuk melanjutkan ke tingkat Asia Pasific, tapi sebuah pekerjaan yang sudah aku sign kontraknya, menahan langkahku menghadirinya, karena tepat diadakan pada hari dan jam yang sama. Durung kepareng, kata ibuku dalam bahasa Jawa.

Tahun ini?? Tahun ini ada 590-an karya yang masuk, dan kami pun masuk sebagai nominator 10 besar dari 55 kategory R&D yang terdaftar…welll…not bad at all…but not good enough neither…well it takes time….hard works and patience will pay off eventually…..In Japanese you could say “GAMBATE”….

Di manapun aku akan berpijak, berhijrah atau apapun namanya, niatku selalu tulus dan ikhlas dan keyakinanku pada sebuah cita-cita telah menjadikan kekuatan batin yg luar biasa besarnya, dan nyatanya jauh lebih besar daripada yang aku pikir aku bisa perbuat.

Tulisan ini dibuat pada 7 Desember 2007 sebagai ungkapan rasa syukurku kepada empunya Penghidupan dan orang-orang di sekelilingku baik di depan maupun di balik layar yang sebenarnya menggerek bendera yang sama.

Tags: