Damarwangi blog on Technologies

Gadgets, Softwares, Electro Medical, Biotech, Share on current issues

Catatan perjalanan yg sungguh sayang dilewatkan.    

Memenuhi undangan kawan yg memiliki bisnis peternakan kepiting, udang dan bandeng di pesisir pantai Utara Jawa, tak sengaja membawa saya kembali merenungi sejarah perjuangan bangsa ini.

Perjalanan sekitar 45 menit membawaku ke pintu tol Krawang Barat, Rengas Dengklok di mana ada 2 tempat penting bagiku: satu: tempat di mana beristirahat dengan tenang almarhum ibundaku yg baru saja berpulang, pemakaman terindah di Indonesia – San Diego Hills dan dua: tempat diculiknya Bung Karno dan dituliskannya naskah Teks Proklamasi tepat 1 hari sebelum proklamasi dibacakan .

Ternyata peternakan bandeng dan kepiting kawanku, tidak berada tepat di Rengas Dengklok tapi masih sekitar 3,5 jam perjalanan!! Namun perjalanan tak terasa membosankan, karena pemandangan sawah di kanan dan kiri jalan terhampar indah. Jalan yg cukup kecil untuk dilalui 2 arah. Sebagai lumbung padi di Jawa Barat, tak heran jika Chairil Anwar menorehkan tinta puisinya ttg Krawang dan Bekasi, sebuah lumbung padi yang begitu subur, dengan aliran sungai Citarum yang deras, bahkan sekarang ini sering kebanjiran!

Kini sebagian kota Bekasi sudah beralih fungsi menjadi pemukiman bahkan sentra industri yang padat, menggeser kedudukan sawah-sawah lumbung padi.

Setelah menyusuri kali, sungai buntu, daerah Pedes dan hamparan sawah yg tak habis di pandangan mata, akhirnya kami memasuki kawasan pesisir pantai utara P.Jawa dan tiba di rumah seorang kawan. Ternyata keluarganya sedang menyiapkan berkilo-kilo kepiting dan ikan bandeng goreng!!

Setelah mampir sejenak, kami pun menyempatkan diri main ke pantai Samudra Baru, sebuah pantai yg airnya lumayan coklat karena lumpur dan dangkal, dengan kedalaman paling mentok 25 meter, sehingga tidak ada kapal yg berlabuh. Tak ada yg istimewa, tapi karena ingin melepas lelah dan menikmati ikan kakap merah raksasa yg dibakar. Segera kami menyantap makan siang yg semuanya sea food segar ditemani semilir angin pantai. Sungguh segar!    

Sewaktu kembali dari pantai Samudra Baru ini, yg jaraknya sekitar 35 Km dari Rengas Dengklok, seorang teman meminta kami mampir ke rumahnya di Rengas Dengklok. Kami pun mampir di rumah mungilnya, dan ternyata lagi2…ronde kedua makan siang…ternyata ibu dari temanku yg satu ini telah memesan sate maranggi khas Rengas Dengklok…sate dari daging sapi ini memang cukup kecil, tapi jangan ditanya rasanya!! Aroma gula aren dan ketumbar yg nendang, emang endang bambang!!!

Sewaktu pamitan pulang, ternyata kami masih lagi dibekali serabi hijau khas Rengas dengan saos nangka dan durian dan gubraaks…hancurlah program diet resolusi awal tahun ini…    

Rumah Djiaw Kie Siong

Dalam perjalanan pulang, hanya beberapa ratus meter saja, tersebutlah rumah keramat Rengas Dengklok. Di tempat inilah Bung Karno dan Bung Hatta, “diculik” untuk diamankan oleh tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada 16 Agustus 1945. Kami menyisir rumah satu persatu, tapi memoriku yg kata almarhum ibu kadang2 kumat fotographic memory-nya menghentikan laju mobil pada sebuah rumah cat hijau putih, dg bangunan khas tempo doeloe. Yaaayy….aku sudah berdiri di rumah bersejarah itu!!!

Rumah ini, biasanya hanya aku lihat di buku sejarah SD.
Aku tak ragu minta izin masuk, karena di depan rumah tampak banyak orang berjaga di serambi sambil mengobrol.

Peristiwa di Rengas Dengklok

Imbas dari dijatuhkannya bom nuklir oleh Amerika di Jepang, tepatnya Hiroshima tgl 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tgl 9 Agustus 1945 telah membuat pemerintahan Jepang saat itu berada dalam kondisi panik, termasuk di daerah koloninya saat itu.
Tentunya ini momen yg sangat tepat untuk merebut kemerdekaan dan bebas dari belenggu penjajahan. Hal ini disadari sepenuhnya oleh para pemuda dan tentara PETA saat itu.

Memasuki rumah itu, tampak jejeran foto. Mulai dari foto Bung Karno, Soekarni, Hadi Pranoto, Singgih hingga pemilik rumah Djiaw Kie Siong (wafat 1964).

Rumah Djiaw Kie Siong, terletak foto the founding fathers dan para “penculik”nya, seperti Soekarni, Singgih, dan Hadi Pranoto.
Di sebelah kanan, terletak kamar yang sempat ditiduri Bung Karno, Ibu Fatmawati dan bayi Guntur.
Di sebelah kiri terletak kamar Bung Hatta.
Di sinilah tempat tidur Bung Karno dan Ibu Fatmawati bersama Guntur (saat itu berusia 9 bulan)
Selebihnya di dinding tergantung sumbangan-sumbangan dari partai, sumbangan ini berupa hiasan dinding dengan pemeo-pemeo yg biasa dikumandangkan Bung Karno, seperti Jas Merah(Jangan Sekali sekali Melupakan Sejarah),dll.    

Saya pun merinding, membayangkan peristiwa 16 Agustus, dan cukup trenyuh melihat kondisi bangunan saksi sejarah. Saya menuliskan seuntai kata pada lembar buku tamu dan menerangkan pada suami bahwa ini rumah keramat buat orang Indonesia, hingga dia mendesak saya menceritakan sejarah ada apa dengan rumah itu.

Mengapa di Rengas Dengklok ?

Saat itu para pemuda, diantaranya Chaerul Saleh dan Adam Malik serta sebagian tentara PETA menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI, yang dianggap sebagai badan/organisasi buatan Jepang.

Untuk itu, mereka “menculik” founding fathers kita: diantaranya Bung Karno dan Bung Hatta sekitar pukul 04.30 dini hari dari Menteng 31 ke Rengas Dengklok. Sedianya pengamanan akan dilakukan di markas PETA yg berjarak sekitar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, namun Bung Karno menolak dengan alasan keamanan, akhirnya sejarah membawa kita ke rumah keramat ini.

Dari perbincangan saya dengan Ibu Nani- cucu dari alm.Djiaw, saat itu ada sekitar 40 orang yg ikut mengamankan rumah itu pada peristiwa 16 Agustus 1945.

Di rumah inilah Bung Karno, ibu Fatmawati dan Guntur(saat itu berusia 9 bulan) dan tentunya Bung Hatta menginap.

Di rumah ini juga para pemuda mendesak dan akhirnya bernegosiasi dengan Bung Karno dan Bung Hatta hingga lahirnya Teks Proklamasi Kemerdekaan.

Tidak sampai di situ, mereka juga mencari kesepakatan tentang kapan tanggal pengumuman proklamasi akan dilakukan. 

Negosiasi ini dilakukan antara golongan muda yg diwakili Mr.Akhmad Subarjo dengan golongan tua yg diwakili Soekarno dan Hatta.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. 

Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. 

Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang “diambil” dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler.

Tidak terawat    

Sepertihalnya di kebanyakan situs bersejarah yang telah mengukir perjuangan bangsa ini, tempat ini pun jauh dari kesan terawat. Saya pun trenyuh, mengapa pemerintah tidak lebih memperhatikan tempat-tempat bersejarah seperti ini. Di sinilah Teks Pidato diolah dan disusun.Teks yang menggema setiap 17 Agustus di seantero negri.

Bagian atap dari kamar tidur BK yg terlihat tidak terawat
Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok    

Pernah saat Ibu Mega menjabat sebagai Presiden, sedianya akan dibangun museum, dan dari observasi saya, jalan akses menuju “yg sedianya bangunan museum Rengas Dengklok” sudah dibangun dengan baik, namun konon berhembus kabar beliau keburu turun jabatan, rencana tinggal rencana. Yah paling tidak, sekitrar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, terdapat bekas markas PETA yg kini terletak bangunan Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok – jadi obat penghibur hati.

Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok - sekitar 100 meter dari Rumah Djiaw
Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok - sekitar 100 meter dari Rumah Djiaw
Renungan    

Pertanyaan saya: apakah founding fathers dan rangkaian sejarah yang mengikutinya hanya milik seorang anak yg bangga akan kebesaran ayahnya?  Tidak!! Sejarah bangsa ini yah milik kita semua. Jadi siapapun yg ada di sini sedianya memiliki obligasi moral merawat situs bersejarah. 
Namun mungkin saya terlalu banyak berharap!

Demikianlah rangkaian perjalanan saya menyusuri lumbung padi di Jawa Barat, dan menyisir pantai Utara Jawa hingga saya terhempas di Rengas Dengklok.

Menorehkan seuntai kata pada buku tamu
ditulis pada 18 Januari 2009

Italia dan mekanisme Euro
————————–——-

Salah satu analisa paling menarik Saxo Bank untuk 2009 adalah kemungkinan besar keluarnya Italia dari system mata uang Euro yg berlaku di kawasan Uni Eropa.

Saat penggabungan system mekanisme Euro berlangsung, sudah saya perkirakan adalah diuntungkannya Negara-negara bagian Uni Eropa yg system ekonominya jatuh tertinggal dibandingkan dengan negara anggota Uni Eropa lain.

Lira yg bernilai jauh di bawah mata uang lainnya, seperti Francs Perancis, bahkan Gulden Belanda saat penggabungan berlangsung, memang diutungkan dg penerapan mata uang tunggal. Sayangnya penerapan system mekanisme mata uang tunggal untuk sebuah kawasan yg hanya dilekatkan oleh sebuah peradaban dan letak geografis, tidak dapat menjamin otoritas setiap Negara dapat disamaratakan secara ekonomi, bahkan hukum dan pemerintahan.

Italia, dengan penduduk yg tercatat hampir 60 juta orang dan luas demografi 301,245 km2, ikut hanyut terseret krisis global, dan asset-asetnya satu persatu mulai akan berguguran, seperti hampir pailitnya penerbangan maskapai Alitalia. Italia dengan Real GDP growth yg -0.2% di tahun 2008 ini - data http://www.euromonitor.com/factfile.aspx?country=IT dan inflasi yg mencapai 3.45% di tahun yg sama semakin membuat Negara yg dahulu besar dan tersohor dg kekaisaran Roman nya harus menanggung beban yg berat.

Adanya pemahaman mekanisme mata uang tunggal, memang tidak selalu membawa imbas yg selalu stabil pada suatu kawasan regional. Apakah hanya dengan pengatasnamaan “satu kawasan” kita dapat bersatu dan menerapkan “satu nama untuk alat barter barang dan jasa”???
Saya rasa tidak. Mengapa? Jangan lupakan bahwa Negara-negara satu kawasan, tidak otomatis memiliki kesamaan landasan ekonomi yg kuat. 

Hukum rimba pun akan berlaku, siapa yg kuat akan bertahan dan yg lemah, akan semakin memperlemah existensi mekanisme mata uang tunggal, akibatnya, mata uang tersebut akan terdevaluasi dan karenanya, dia-negara yg tidak kuat mau tidak mau harus keluar dari aturan main.

Coba Anda sedikit bermain matematika, dengan menghitung statistic, jika ada 5 komponen x, yaitu x1,x2,x3,x4, dan x5. Jika x1…x4 memiliki value taruhlah 8 dan x5 sendiri yg memiliki value 4, maka Anda dengan mudah menghitung mean(nilai rata-rata) ada pada (8+8+8+8+4)/5=7.2 siapa yg membuat nilai rata-rata turun? Yah yg bervalue 4 kan? Bukankah seharunya jika x5=8, mereka kan memiliki mean 8 ?! 

Dari sekian banyak indikator kekuatan ekonomi, ada satu hal di antaranya pada ketergantungan suatu Negara pada produk pangannya mayoritas rakyatnya, semisal China, Thailand, dan Vietnam yg mayoritas pemakan mie dan Indonesia yg pemakan nasi. Jika saham-saham produk pangan dilepas go public, naik turunnya saham-saham produk pangan mayoritas penduduk akan dapat termonitor.

Jika kita Asean akan menerapkan suatu system mata uang tunggal, mudah2an kita dapat lebih dahulu belajar dan menganalisa bahwa setiap Negara anggota berangkat dari kekuatan ekonomi yg beragam. Menurut saya sih, idealnya, jika setiap Negara anggota memiliki hampir semua aspek, mulai dari GDP, inflasi, hutang Luar Negri yg hampir seragam, baru kestabilan system bisa dicapai. Apakah mungkin? Sangat tidak mungkin kan! 

Letak yg berdekatan bukan satu-satunya alasan penerapan mekanisme mata uang tunggal. Dan hanya waktu dan kestabilan yg akan membuktikan, siapa yg lebih dulu nantinya harus keluar dari system. Seperti analisa bahwa Italia harus segera keluar dari mekanisme mata uang tunggal Euro.

Mudah2an bisa diterima, tapi hemat saya, sanering atau pemotongan mata uang secara drastis, sepertinya dapat diterapkan pada satu Negara isolasi yg tampaknya harus keluar dari system. Bukan sanering pada Euro nya, tetapi sanering pada ekivalen produk local Negara yg bersangkutan.

Harga minyak tergelincir hingga 25U$/barrel
————————–————————–———————
Satu lagi, permasalahan analisa Saxo Bank yg menyebut di tahun 2009 nanti, harga minyak yg dapat terjum ke level 25U$ per-barel tampaknya sangat mengerikan!! Sesudah Negara Republik ini harus tak lagi menduduki Opec akibat pemenuhan kebutuhan domestic yg belum dapat dicukupi dan kesepakatan pengurangan produksi minyak dari Negara-negara anggota Opec. 
Jika beberapa anggota Opec beralih kepada dibentuknya kartel Forum pengeksport Gas, yang katanya memakan waktu 10-15 tahun untuk persiapan kilang gasnya. 

Alat pembayaran khusus untuk non-renewable energy resources
————————–————————–————————–
Idealnya(hemat saya lagi), apakah suatu mekanisme pasar yg tidak didasarkan pada mata uang yg paling banyak beredar di dunia ini, bisa dilakukan? Apakah tatanan bisnis dunia ini dapat menyetujui suatu alat pembayaran khusus energi-energi non-renewable energy resources?? Semua energi yg keluar dari bumi, minyak, gas,dll ? Mengapa? Karena jika kita memakai suatu alat pembayaran khusus untuk energi yg pasti akan habis, berarti sooner or later, alat pembayaran itu akan terdevaluasi, dan jika kita memakai alat pembayaran yg sangat popular dalam dunia bisnis all over the world, akibatnya berimbas pada banyak sector, tidak hanya melulu pada minyak dan gas. Dan krisis ekonomi globalpun akan menyeret kita again and again. Cabee dee…huh

Hasil oprek-oprek dan ide original saya untuk solusi yg mungkin tampak nyeleneh ;D di penghujung tahun. Happy new year everyone!

Always be creative and original!
Lelya Damarwangi

Aug
16
Posted by lia

IYCEY awards 2008-2009

IYCEY awards 2008-2009

 

International Young Creative Entrepreneur Year of 2008 award

“You could aim your life at a destination, but it’s a journey that count. Because your life is a part of a responsibility, not only to yourself or your children, but also to your society and to others” -Lelya-

 

Adalah sebuah ajang penghargaan bergengsi untuk mengapresiasi kegiatan para pelaku bisnis kreatif yaitu anak-anak muda dalam kisaran umur 25-35 tahun.  Mereka adalah tunas-tunas muda bangsa yang memadukan gejolak kreatifitasnya, baik dalam berfikir dan berkarya dan mengemas outputnya sehingga memiliki nilai jual/komersial.

 

Bisnis kreatif adalah bentuk ouput dari sebuah kreatifitas yang dapat berupa seni musik: lagu/band, seni grafis: animasi 2d-3d, web design, seni menulis: buku/tulisan, seni rupa: rancangan design pakaian/fashion hingga yang mengaplikasikan teknologi: software system.  Semuanya dibuat berdasarkan kreatifitas dan ide original, dan hasilnya memiliki nilai komersial.

 

The British Council dalam ini sebagai Organisasi nirlaba dari Inggris, sudah beberapa kali ini menyelenggarakan ajang IYCEY di Indonesia.  Untuk tahun 2008 ini, BC mengambil 4 sektor yang diikutkan kedalam IYCEY, yaitu sector Screen(feature film, documentary, shorts, television production, and animation), sector Interactive(Interactive software publishers, developers and marketing specialists, web design), sector Fashion(textile, accessories or perfume design and production, Fashion retail: buying, merchandising) dan sector Communications (Advertising and branding agencies, PR & Photography agencies).

 

BC menerima sekitar 50 hingga 100 aplikasi dari setiap kategorinya.  Dan tahun ini telah terpilih 37 anak muda sebagai finalis IYCEY 2008 di Indonesia.

 

Dari setiap kategorinya, akan dipilih 1 orang saja untuk mewakili Indonesia pada ajang IYCEY tingkat dunia yang akan diselenggarakan di UK.

 

Jawara IYCEY bidang Screen akan mewakili Indonesia, untuk pergi ke UK tanggal 12-24 October 2008 dan akan berkompetisi dengan para entrepreneur dari China, India, Lithuania, Mexico, Nigeria, the Philippines, Poland, Slovenia, and Thailand.

 

Jawara IYCEY bidang Interactive juga akan mewakili Indonesia, pergi ke UK tanggal 6-18 November 2008 ini dan akan berkompetisi dengan Brazil, Estonia, India, Poland, Russia, Slovenia, dan Turkey.

 

Jawara IYCEY bidang Fashion mewakili Indonesia juga berangkat ke UK, 1-13 February 2009 untuk berkompetisi dengan Brazil, India, Mexico, Saudi Arabia, South Africa, Sri Lanka, Poland, Thailand, dan Tunisia.

 

Jawara IYCEY bidangn Communications mewakili Indonesia juga berangkat ke UK, Pada bulan Maret 2009 dan akan berkompetisi dengan the Central South Asia region, Ghana, Kuwait, Latvia, Mexico, Nigeria, Russia, Slovenia, dan the South Caucasus.

 

 

Karantina para finalis IYCEY 2008

 

 

Ke 37 orang finalis IYCEY Indonesia ini sempat menjalani masa karantina di Jakarta dan Bandung sebelum menghadapi para juri yang sangat kompeten pada masing-masing sector.  Selain itu, kegiatan karantina para finalis, juga diisi dengan pembekalan dan Focus Discussion Group terhadap aspek bisnis dari industri kreatif dari Bina Nusantara Management School.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Foto 37 finalis IYCEY Indonesia 2008 semasa karantina)

 

 

Begitu juga dengan presentasi business incubator dengan pembicara dari Cultural Entreprise Office- Glasgow dan juga Raw-Nerve, sebagai contoh perusahaan yang sukses dengan industri kreatifnya.

 

Disamping kegiatan yang cukup serius tersebut, finalis juga diundang pada acara dinner dan diperkenalkan dengan band dari UK, yaitu D-Fuse.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(BC memperkenalkan pengisi acara pada KICKFEST Bandung, yaitu Band D-Fuse dari UK di Café Twank, Bandung)

 

Dukungan industri kreatif terhadap perekonomian Indonesia

 

 

Dalam portal nasional http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=8013&Itemid=693

Departemen Perindustrian mencatat industri kreatif menyerap 5 juta tenaga kerja, dan menyumbang kontrobusi ke PDB sekitar 6,3 persen (Menteri Mari Elka Pangestu dalam seminar Urban Planning dan Budaya Kreatif di Kampus ITB, Bandung (8/8).)

 

Mimpi saya agar Organisasi semacam CEO juga hadir di Indonesia

 

Cultural Entreprise Office adalah Organisasi yang dibentuk untuk memberikan dukungan mulai dari konsultasi, dan support kepada para pelaku industri kreatif di Britania Raya, khususnya di sekitar Scotland.  http://www.culturalenterpriseoffice.co.uk/website/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Presentasi Business Incubator oleh Deborah dari CEO dan Kieran McMillan dari Raw-Nerve)

 

 

CEO dibiayai dari funding yang didapat dari berbagai sponsor.  Idealnya Indonesia memiliki banyak lembaga semacam CEO ini, karena potensi yang luar biasa dari sumber daya manusia-manusia muda Indonesia yang tidak kalah kreatif baik dalam bermusik, berfashion, beranimasi maupun berteknologi.

Memang CEO tidak memberikan pinjaman uang sebagai modal (lagian itu lebih merupakan kewajiban pemerintah dan bank – sepertihalnya teladan Muhammad Yunus pemenang nobel bidang ekonomi, yang meminta pemerintah meringankan dan melapangkan jalan untuk para pelaku bermodal kecil )

 

Pandangan saya terhadap industri kreatif di Indonesia

 

Saya dan Damarwangi kebetulan bergerak di bidang ICT, atau teknologi informasi, semenjak tahun 2003.

Dalam pandangan saya, masih banyak yang perlu dibenahi (baik secara infrastruktur maupun policy dari pemerintah) agar industri ICT kita dapat lebih kondusif dan mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik.  Sebagai contoh, Indonesia dengan India dan China, masih jauh ketinggalan dalam industri ICT ini.  Sebabnya adalah pola pikir orang Indonesia yang cenderung menunggu order sebelum menghasilkan sebuah produk ICT yang memiliki nilai komersial secara bisnis.  Hal ini sangat berbeda dengan India, negara yang jadi trendsetter industri film dan ICT, India juga menjadi outsourcing negara-negara maju, khususnya di bidang ICT.  India terus melakukan produksi baik di bidang film, ataupun ICT, bahkan ketika order/pesanan belum ada. Lalu bagaimana pemasarannya? Adalah barisan marketing yang memgang tanggungjawab untuk memasarkan sebuah produk.  Saya percaya di tangan orang-orang marketing, produk yang kita hasilkan akan mampu bersaing dan memiliki bisnis value sesuai apresiasi para pemakainya.

 

 

Para Juara IYCEY 2008

 

Pengumuman para pemenang IYCEY 2008 dilakukan di booth British Council di lapangan Gazebo, Gd.Sate sebagai bagian dari rangkaian acara KICKFEST(Kreatif Independent Clothing Komuniti Festival).

 

BC sendiri membuka sebuah booth yang penuh dengan berbagai pameran yang eco-friendly, mulai dari pembuatan tas dari pemanfaatan limbah sampah, hingga alat-alat musik alternatif yang dibuat oleh Bapak Dodong, yang memanfaatkan limbah dan ramah lingkungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Foto para Jury di IYCEY 2008, dari seluruh kategori yg dilombakan)

 

 

Para juri diantaranya: Ninuk M. Pambudi, Petty S. Fatimah, Shinta Dhanuwardoyo, Triawan Munaf, Wahyu Aditya, Riza Primadi, Indra Utoyo, Bullitt Sesariza

Selengkapnya inilah para dewan juri pada final screening IYCEY 2008.

Juri untuk kategori :

SCREEN: Wahyu Aditya, Riza Primadi, Tino Saroengallo
INTERACTIVE: Indra Utoyo, Shinta Dhanuwardoyo, Bullitt Sesariza
FASHION: Deli Makmur Rachman, Ninuk Pambudy, Marius Widyarto
COMMUNICATIONS: Triawan Munaf, Petty S. Fatimah, Jimmy Silalahi

 

Berikut ini adalah para pemenang/jawara IYCEY 2008

 

Sektor Screen : Sakti Parantean

Sektor Interactive : Rachman Ibrahim

Sektor Fashion : Oscar Lawalata

Sektor Communications : Irfan Amalee

 

Para juara IYCEY 2008 yang akan mewakili Indonesia pada IYCEY tingkat dunia di UK.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Dari kiri: Rachman Ibrahim – Sakti Parantean – Irfan Amalee – Oscar Lawalata)

 

 

Nilai positif dalam keikutsertaan IYCEY 2008

 

Berbagai nilai positif yang saya dapat dari keikutsertaan saya sebagai finalis dalam IYCEY 2008 ini.  Hal yang menyenangkan adalah menambah pengalaman saya sebagai pelaku bisnis/sebagai entrepreneur, di samping itu juga menambah kawan/kawan senasib, yaitu terbentuknya komunitas yang memiliki interest dan passion di bidang yang sama, selain itu juga masa karantina yang asik, penuh pembelajaran tentang how to survive dalam berbisnis, how to compete our products, hingga inspirasi yang saya dapat dari Raw Nerve yang dimotori Kieran, dan harapan saya agar Indonesia memiliki Cultural Enterprise Office seperti yang dipimpin Deborah.  It helps a lot! Paling ngga lembaga macam CEO menyatukan komunitas entreprenur dalam industri kreatif, memberikan saran/advice, pelatihan hingga ke mana kami harus memasarkan produknya.  Tentu saja ini akan lebih synergy jika didukung iklim yang kondusif, memangkas jauh rentetan birokrasi di Indonesia dan adanya policy pemerintah yang memback up penuh kreatifitas kami yang memiliki visi jauh ke depan dan peran serta aktif dalam membangun negri kita tercinta ini. 

 

It has been my privilege to meet and mingle with all the finalists.  They are young, creative, talented, independent, brilliant and crazy!! Their genuine ideas have given me positive energy and now I could look at a shinny Indonesia future.  For me, they are all winners and have a special place in the Indonesia’s creative industry.

 

Always be creative…because opportunity comes within creativity and innovation.

 

Dirgahayu Indonesia-ku yang ke-63! Merdeka!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Foto bersama para jury kategori Interactive: Pak Indra Utoyo, Direktur IT TELKOM-Lelya, finalist IYCEY 2008 Interactive and founder Damarwangi-Bu Shinta Danuwardoyo, founder Bubu, dan Bullitt Sesariza, dari Bullitt Logic System)

 

 

 

Tags: