Memenuhi undangan kawan yg memiliki bisnis peternakan kepiting, udang dan bandeng di pesisir pantai Utara Jawa, tak sengaja membawa saya kembali merenungi sejarah perjuangan bangsa ini.
Perjalanan sekitar 45 menit membawaku ke pintu tol Krawang Barat, Rengas Dengklok di mana ada 2 tempat penting bagiku: satu: tempat di mana beristirahat dengan tenang almarhum ibundaku yg baru saja berpulang, pemakaman terindah di Indonesia – San Diego Hills dan dua: tempat diculiknya Bung Karno dan dituliskannya naskah Teks Proklamasi tepat 1 hari sebelum proklamasi dibacakan .
Ternyata peternakan bandeng dan kepiting kawanku, tidak berada tepat di Rengas Dengklok tapi masih sekitar 3,5 jam perjalanan!! Namun perjalanan tak terasa membosankan, karena pemandangan sawah di kanan dan kiri jalan terhampar indah. Jalan yg cukup kecil untuk dilalui 2 arah. Sebagai lumbung padi di Jawa Barat, tak heran jika Chairil Anwar menorehkan tinta puisinya ttg Krawang dan Bekasi, sebuah lumbung padi yang begitu subur, dengan aliran sungai Citarum yang deras, bahkan sekarang ini sering kebanjiran!
Kini sebagian kota Bekasi sudah beralih fungsi menjadi pemukiman bahkan sentra industri yang padat, menggeser kedudukan sawah-sawah lumbung padi.
Setelah menyusuri kali, sungai buntu, daerah Pedes dan hamparan sawah yg tak habis di pandangan mata, akhirnya kami memasuki kawasan pesisir pantai utara P.Jawa dan tiba di rumah seorang kawan. Ternyata keluarganya sedang menyiapkan berkilo-kilo kepiting dan ikan bandeng goreng!!
Sewaktu kembali dari pantai Samudra Baru ini, yg jaraknya sekitar 35 Km dari Rengas Dengklok, seorang teman meminta kami mampir ke rumahnya di Rengas Dengklok. Kami pun mampir di rumah mungilnya, dan ternyata lagi2…ronde kedua makan siang…ternyata ibu dari temanku yg satu ini telah memesan sate maranggi khas Rengas Dengklok…sate dari daging sapi ini memang cukup kecil, tapi jangan ditanya rasanya!! Aroma gula aren dan ketumbar yg nendang, emang endang bambang!!!
Rumah Djiaw Kie Siong
Dalam perjalanan pulang, hanya beberapa ratus meter saja, tersebutlah rumah keramat Rengas Dengklok. Di tempat inilah Bung Karno dan Bung Hatta, “diculik” untuk diamankan oleh tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada 16 Agustus 1945. Kami menyisir rumah satu persatu, tapi memoriku yg kata almarhum ibu kadang2 kumat fotographic memory-nya menghentikan laju mobil pada sebuah rumah cat hijau putih, dg bangunan khas tempo doeloe. Yaaayy….aku sudah berdiri di rumah bersejarah itu!!!
Rumah ini, biasanya hanya aku lihat di buku sejarah SD.
Aku tak ragu minta izin masuk, karena di depan rumah tampak banyak orang berjaga di serambi sambil mengobrol.
Peristiwa di Rengas Dengklok
Imbas dari dijatuhkannya bom nuklir oleh Amerika di Jepang, tepatnya Hiroshima tgl 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tgl 9 Agustus 1945 telah membuat pemerintahan Jepang saat itu berada dalam kondisi panik, termasuk di daerah koloninya saat itu.
Tentunya ini momen yg sangat tepat untuk merebut kemerdekaan dan bebas dari belenggu penjajahan. Hal ini disadari sepenuhnya oleh para pemuda dan tentara PETA saat itu.
Memasuki rumah itu, tampak jejeran foto. Mulai dari foto Bung Karno, Soekarni, Hadi Pranoto, Singgih hingga pemilik rumah Djiaw Kie Siong (wafat 1964).
Di sebelah kiri terletak kamar Bung Hatta.
Saya pun merinding, membayangkan peristiwa 16 Agustus, dan cukup trenyuh melihat kondisi bangunan saksi sejarah. Saya menuliskan seuntai kata pada lembar buku tamu dan menerangkan pada suami bahwa ini rumah keramat buat orang Indonesia, hingga dia mendesak saya menceritakan sejarah ada apa dengan rumah itu.
Mengapa di Rengas Dengklok ?
Saat itu para pemuda, diantaranya Chaerul Saleh dan Adam Malik serta sebagian tentara PETA menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI, yang dianggap sebagai badan/organisasi buatan Jepang.
Untuk itu, mereka “menculik” founding fathers kita: diantaranya Bung Karno dan Bung Hatta sekitar pukul 04.30 dini hari dari Menteng 31 ke Rengas Dengklok. Sedianya pengamanan akan dilakukan di markas PETA yg berjarak sekitar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, namun Bung Karno menolak dengan alasan keamanan, akhirnya sejarah membawa kita ke rumah keramat ini.
Dari perbincangan saya dengan Ibu Nani- cucu dari alm.Djiaw, saat itu ada sekitar 40 orang yg ikut mengamankan rumah itu pada peristiwa 16 Agustus 1945.
Di rumah inilah Bung Karno, ibu Fatmawati dan Guntur(saat itu berusia 9 bulan) dan tentunya Bung Hatta menginap.
Di rumah ini juga para pemuda mendesak dan akhirnya bernegosiasi dengan Bung Karno dan Bung Hatta hingga lahirnya Teks Proklamasi Kemerdekaan.
Tidak sampai di situ, mereka juga mencari kesepakatan tentang kapan tanggal pengumuman proklamasi akan dilakukan.
Negosiasi ini dilakukan antara golongan muda yg diwakili Mr.Akhmad Subarjo dengan golongan tua yg diwakili Soekarno dan Hatta.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu.
Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur.
Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang “diambil” dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler.
Sepertihalnya di kebanyakan situs bersejarah yang telah mengukir perjuangan bangsa ini, tempat ini pun jauh dari kesan terawat. Saya pun trenyuh, mengapa pemerintah tidak lebih memperhatikan tempat-tempat bersejarah seperti ini. Di sinilah Teks Pidato diolah dan disusun.Teks yang menggema setiap 17 Agustus di seantero negri.
Pernah saat Ibu Mega menjabat sebagai Presiden, sedianya akan dibangun museum, dan dari observasi saya, jalan akses menuju “yg sedianya bangunan museum Rengas Dengklok” sudah dibangun dengan baik, namun konon berhembus kabar beliau keburu turun jabatan, rencana tinggal rencana. Yah paling tidak, sekitrar 100 meter dari rumah Djiaw Kie Siong, terdapat bekas markas PETA yg kini terletak bangunan Monumen Kebulatan Tekad Rengas Dengklok – jadi obat penghibur hati.
Pertanyaan saya: apakah founding fathers dan rangkaian sejarah yang mengikutinya hanya milik seorang anak yg bangga akan kebesaran ayahnya? Tidak!! Sejarah bangsa ini yah milik kita semua. Jadi siapapun yg ada di sini sedianya memiliki obligasi moral merawat situs bersejarah.
Namun mungkin saya terlalu banyak berharap!
Demikianlah rangkaian perjalanan saya menyusuri lumbung padi di Jawa Barat, dan menyisir pantai Utara Jawa hingga saya terhempas di Rengas Dengklok.













